Rabu, 26 Januari 2022

Cerita Rakyat Kabupaten Kebumen, Legenda Gunung Wurung

Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar kata legenda? Danau Toba-kah? Atau Gunung Tangkuban Parahu? Lalu apa pula yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar kata mitos? Apakah para dewa, hantu, atau bahkan pohon yang berpenghuni?

Indonesia, sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya, setiap daerah ternyata mempunyai cerita rakyat yang sangat menarik untuk di simak. Salah satunya adalah Legenda Gunung Wurung di Jawa Tengah. Anda tertarik untuk mengetahui kisahnya? Mari kita simak uraian berikut.

A. Macam-Macam Cerita Rakyat

Legenda Gunung Wurung -2

Cerita rakyat disebut juga dongeng. Dongeng adalah cerita yang bersifat khayalan dan mengisahkan hal-hal yang bersifat mustahil, tetapi mempunyai pesan moral yang sangat baik untuk dijadikan pelajaran dan pengalaman hidup oleh pembacanya.

Dongeng merupakan cerita rakyat yang bersifat turun-temurun dari generasi ke generasi dan bersifat anonim. Anonim artinya cerita tersebut tidak diketahui siapa nama pengarangnya. Isi dongeng bersifat monoton dan konstan, artinya cerita tidak pernah berubah dari dahulu sampai sekarang. Contoh cerita dongeng adalah cerita Timun Mas, Jaka Tarub, Bunga Sinalonali, dan lain-lain.

Dongeng dibedakan menjadi:

Fabel

Fabel adalah cerita rakyat dengan tokoh-tokoh binatang dan mengisahkan tentang kehidupan para binatang. Para binatang tersebut dikisahkan memiliki sifat-sifat dan tingkah laku seperti manusia seperti bisa berbicara, bisa berpikir, banyak akal, jahat, licik, cerdik, bijaksana, dan lain-lain. Seperti halnya dongeng, fabel pun memiliki pesan moral yang baik untuk dijadikan pelajaran oleh pembacanya.

Selain itu, fabel mempunyai cerita yang sangat menarik, sehingga sangat baik untuk dijadikan bacaan pengantar tidur untuk anak-anak. Fabel-fabel yang terkenal di antaranya cerita Kancil dan Buaya, Kancil dan Harimau, Kisah Anjing dan Burung Gagak, dan lain-lain.

Mitos

Mitos merupakan cerita yang terlanjur ada dan diyakini kebenarannya oleh masyarakat, meskipun sebenarnya cerita tersebut tidak terbukti kebenarannya. Mitos yang terkenal adalah mitos para dewa. Mitos mengisahkan kehidupan para dewa secara lengkap dan lugas, mulai dari kisah percintaan, peperangan, dan lain-lain. Mitos lain yang dianggap benar adalah cerita tentang unicorn. Unicorn adalah kuda putih yang gagah perkasa dan bisa terbang.

Legenda

Legenda adalah cerita yang mengisahkan tentang asal-usul terjadinya suatu tempat. Cerita legenda biasanya dikenal dan diketahui oleh masyarakat yang tertinggal di daerah tersebut. Contohnya Legenda Tangkuban Parahu, Legenda Danau Toba, Legenda Gunung wurung, dan lain-lain.

Sage

Sage adalah cerita yang berhubungan tentang sejarah dan kepahlawanan. Beberapa cerita sage yang terkenal cerita Ciung Wanara, Airlangga, Calon Arang, dan lain-lain.

Untuk memperjelas teori-teori tersebut, berikut ini disajikan contoh Legenda Gunung Wurung.

B. Legenda Gunung Wurung

Legenda Gunung Wurung -1

Secara geografis, Gunung Wurung terletak di Desa Parang, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Gunung Wurung mempunyai ketinggian tidak lebih dari 80 m serta tidak mempunyai puncak tertinggi. Sehingga gunung tersebut lebih mirip dengan bukit.

Berdasarkan ilmu geologi, Gunung Wurung terbentuk karena adanya instrusi batuan. Magma yang terdapat di dalam perut bumi mengalami instrusi menerobos batuan-batuan yang ada di permukaan, namun karena pengaruh udara dingin, magma tersebut tidak sampai ke permukaan bumi dikarenakan terlanjur membeku. Oleh karena itu, gunung tersebut mempunyai bentuk yang tidak terlalu besar dan tidak mempunyai puncak tertinggi.

Kisah Legenda Gunung Wurung Kebumen

Sedangkan menurut cerita rakyat masyarakat di Jawa Tengah, khususnya masyarakat di sekitar Kabupaten Kebumen, legenda Gunung Wurung berkaitan dengan kisah sebagai berikut.

Konon pada zaman dahulu kala, Desa Parang merupakan daerah yang lapang dan rata, tidak ada perbukitan apalagi gunung. Sehingga Desa Parang mudah terkena bencana seperti banjir dan angin ribut. Oleh karena itu, para tokoh masyarakat dan tokoh adat Desa Parang sepakat untuk memohon kepada para dewa, agar di desa mereka dibuatkan sebuah gunung yang dapat dijadikan perisai dari berbagai bencana.

Alhasil, doa para tokoh masyarakat tersebut dikabulkan. Para dewa akan membuatkan sebuah gunung di Desa Parang dalam waktu hanya satu malam. Namun sebelum para dewa membuatkan gunung, para dewa memberikan sebuah persyaratan, bahwa  pada waktu para dewa membuat gunung tidak boleh ada seorang pun warga desa yang keluar untuk menyaksikan pembuatan gunung tersebut. Persyaratan tersebut berlaku untuk semua orang, tidak terkecuali anak kecil.

Persyaratan tersebut kemudian disanggupi oleh para tokoh masyarakat. Mereka kemudian menyampaikan persyaratan tersebut kepada warga desa. Warga desa yang mengetahui bahwa di desanya akan dibuatkan sebuah gunung, bersuka cita. Mereka merasa sangat senang dan menyanggupi persyaratan tersebut.

Akhirnya menjelang malam yang telah ditentukan, semua warga desa sudah masuk ke dalam rumahnya masing-masing. Mereka mengunci diri dan tidak ada seorang pun yang berusaha mengintip ke luar rumah. Semua warga desa berharap bahwa pada esok hari, desa mereka akan mempunyai sebuah gunung yang menjulang tinggi.

Begitu juga dengan para dewa, mereka mengerahkan semua prajuritnya untuk membuat gunung yang menjulang tinggi di desa Parang. Dengan penuh semangat dan tidak kenal lelah para dewa bekerja, hingga tidak terasa pondasi dan tiang-tiang pun sudah selesai didirikan. Penimbunan pembentukan gunungpun mereka lakukan. Hingga pembentukan gunung pun hampir selesai dibuat.

Konon, ketika pekerjaan tinggal satu pertiga bagian. Ketika hari menjelang pagi dan para dewa masih sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba dari arah desa terlihat seorang gadis membawa bakul pencuci beras menuju ke sungai. Mungkin gadis itu akan mencuci beras. Entah bagaimana ceritanya sehingga gadis tersebut melanggar persyaratan para dewa.

Ada yang mengatakan bahwa gadis tersebut benar-benar tidak mengetahui adanya berita pembuatan gunung tersebut, serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh penduduk desa. Si gadis berjalan tanpa menghiraukan keadaan sekitar, selain karena hari memang masih gelap, juga karena dia sudah terbiasa mencuci beras pada waktu tersebut. Namun alangkah terperanjatnya dia, ketika hendak turun ke sungai tiba-tiba di hadapannya berdiri sebuah bukit.

Si gadis merasa sangat bingung, karena menurutnya kemarin tempat tersebut masih berupa dataran yang luas. Di tengah perasaannya yang bingung, si gadis mendongak ke atas serta memperhatikan keadaan sekelilingnya. Si gadis ternganga memperhatikan apa yang dilihatnya. Matanya seolah-olah tidak bisa berkedip, si gadis melihat begitu banyak sosok-sosok menyeramkan dengan postur tinggi besar sedang membangun sesuatu.

Makhluk-makhluk tersebut ada yang membawa batu-batu besar kemudian meletakannya di tengah-tengah tiang, ada yang menimbun tanah, dan lain-lain. Semuanya tampak sibuk dan saling tidak berbicara. Makhluk-makhluk tersebut berkeja dengan sangat cepat.

Setelah sadar dari kekagetannya, sang gadis pun lari tunggang-langgang menuju desanya sambil berteriak-teriak minta tolong. Teriakan sang gadis terdengar oleh para dewa. Para dewa yang merasa penduduk desa tidak mematuhi persyaratan yang telah disepakati bersama, kemudian menyuruh semua prajurit untuk menghentikan pekerjaannya. Akibatnya, gunung yang dijanjikan pun tidak jadi diselesaikan.

Menurut cerita dan legenda gunung wurung yang tersebar di masyarakat Kabupaten Kebumen, itulah sebabnya mengapa Gunung Wurung tidak tinggi menjulang. Begitulah legenda. Ceritanya sangat menarik meski sebenarnya sangat tidak masuk akal.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda percaya dengan legenda gunung wurung? simak juga artikel sebelumnya: Benarkah Legenda Gunung Bromo Berasal dari Gadis Cantik Jelita?



source https://www.terbaru.co.id/cerita-rakyat-kabupaten-kebumen-legenda-gunung-wurung/

Benarkah Legenda Gunung Bromo Berasal dari Gadis Cantik Jelita?

Indonesia termasuk negara yang dikelilingi oleh gunung dan lautan. Tak heran, jika banyak gunung aktif yang ada di Indonesia, salah satunya Gunung Bromo. Lantas, bagaimana legenda Gunung Bromo?

Gunung Bromo, Ikon Wisata Probolinggo

Legenda Gunung Bromo -1

Bromo merupakan salah satu gunung aktif yang ada di Indonesia, tepatnya di Jawa Timur. Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam 4 wilayah kabupaten. Di antaranya adalah Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Pasuruan.

Dikarenakan masih berstatus aktif, menjadi alasan kenapa Gunung Bromo menarik perhatian para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Gunung Bromo identik sebagai ikon dari wisata di Probolinggo. Mengapa demikian? Sebab dari sekian banyak tempat wisata, Gunung Bromo menjadi tempat yang paling sering dikunjungi.

Dari segi ukuran, Gunung Bromo tidak sebesar gunung api lainnya di Indonesia. Akan tetapi, pemandangan dari Gunung Bromo sangat memkau. Keindahan Gunung Bromo membuat siapa saja yang datang terkagum-kagum.

Dari punjak penanjakan, yakni pada ketinggian kurang lebih 2780 meter, para wisatawan bisa menikmati keindahan sunrise. Momen ini sayang untuk dilewatkan. Tak heran, jika banyak wisatawan yang mengabadikannya dalam foto.

Pada saat sunrise terlihat dari puncak penanjakan, wisarawan akan dimanjakan dengan latar depan Gunung Semeru yang seolah-olah mengeluarkan asap bersamaan dengan naiknya sinar matahari ke langit. Jika tertarik untuk menikmati momen seperti ini, rasanya Anda harus pergi ke Bromo jauh lebih pagi.

Gunung Bromo bisa dibilang sebagai lokasi terbaik di Indonesia untuk menikmati keindahan sunrise. Untuk bisa mencapai penanjakan Bromo, para wisatawan dimudahkan dengan jasa sewa jeep. Anda bisa menyewa jeep untuk mengantarkan ke lokasi-lokasi menarik di Gunung Bromo.

Lantas, bagaimana sih legenda Gunung Bromo? Karena konon katanya, legenda Gunung Bromo berkaitan tentang percintaan. Daripada penasaran, berikut legenda dari Gunung Bromo.

Seperti Apakah Legenda Gunung Bromo Itu?

Legenda Gunung Bromo -2

Legenda Gunung Bromo itu diawali dengan sebuah desa yang letaknya tak jauh dari Gunung Bromo, ada seorang anak perempuan yang lahir sebagai titisan dewa. Wajahnya cantik rupawan nan elok.

Menurut legenda gunung bromo. Saat lahir, bayi perempuan ini menangis sebentar, lalu terdiam. Bayi perempuan itu terlihat tenang. Hingga akhirnya, bayi perempuan itu pun dinamai “Rara Anteng”. Dalam bahasa Jawa, anteng diartikan tenang.

Tak terasa, Rara Anteng pun tumbuh besar menjadi gadis yang cantik jelita. Bahkan bisa dibilang, Rara Anteng adalah gadis tercantik di desa tersebut. Tak heran, jika kecantikannya memikat hati banyak pria.

Sudah banyak pria yang datang melamar Rara Anteng. Kebanyakan dari mereka adalah putera raja yang sudah tentu memiliki kekayaan yang melimpah. Namun kekayaan bukan senjata yang ampuh untuk menaklukan hati Rara Anteng. Rara Anteng pun menolak pinangan para putera raja tersebut.

Pinangan itu ditolak, karena ternyata Rara Anteng sudah jatuh hati kepada Joko Seger, begitu pun sebaliknya. Rara Anteng tak mau menikah dengan pria, selain Joko Seger.

Meski sudah banyak pria yang ditolak, namun bukan berarti tak ada lagi pria yang datang melamar. Hingga pada suatu hari, Rara Anteng dikejutkan dengan kedatangan seorang raksasa dengan muka yang bengis.

Melihat rupa raksasa tersebut, Rara Anteng merasa ketakutan. Bagaimana tidak, matanya besar sekali ditambah lagi dengan janggut dan kumis yang amat lebat, menakutkan bukan?

Ternyata, kedatangan raksasa tersebut adalah untuk melamar Rara Anteng. Betapa terkejutnya, Rara Anteng mendengar keinginan dari raksasa seram tersebut. Dari dalam lubuk hatinya yang terdalam, Rara Anteng yakin akan menolak lamaran dari raksasa tersebut.

Namun di sisi lain, Rara Anteng takut jika penolakannya membuat raksasa marah. Oleh karena itu, Rara Anteng mencari cara untuk menolak pinangan raksasa secara halus. Rara Anteng pun akhirnya memutuskan untuk memberikan syarat kepada raksasa.

Syaratnya adalah raksasa harus bisa mengubah Gunung Bromo menjadi sebuah danau hanya dalam semalam. Batasnya adalah sebelum ayam jantan berkokok dan fajar menyingsing. Pastikan danau itu harus sudah siap untuk dipakai Rara Anteng mandi pagi hari. Dengan syarat sesulit itu, Rara Anteng yakin bahwa raksasa tidak akan bisa mewujudkan permintaannya dalam waktu yang sesingkat itu.

Tanpa banyak bicara, raksasa pun mulai mewujudkan keinginan Rara Anteng. Raksasa tersebut berusaha sekuat tenaga untuk menggali danau di sekitar Gunung Bromo. Raksasa tersebut menggunakan tempuruk (batok kelapa) yang besar untuk menggali tanah.

Sepanjang malam terdengar suara gemuruh yang sangat keras. Pohon-pohon di hutan satu per satu raksasa tebang dan lemparkan ke laut selatan. Binatang-binatang buas yang ada di hutan pun lari ketakutan melihat kedatangan si raksasa.

Melihat kegigihan raksasa, Rara Anteng merasa sangat gelisah. Rara Anteng khawatir, jika raksasa bisa menyelesaikannya tepat waktu. Malam masih panjang, namun anehnya pekerjaan raksasa hampir selesai. Khawatir si raksasa bisa menyelesaikan, Rara Anteng berusaha mencari akal untuk menggagalkannya.

Saat hari masih malam, langit pun masih gelap pekat, Rara Anteng berjalan dengan terpogoh-pogoh. Rara Anteng berniat untuk pergi ke lumbung. Sesampainya di lumbung, Rara Anteng mengambil alu dan mulai menumbuk padi.

Rara Anteng sengaja menumbuk pagi sekeras mungkin, agar ayam-ayam berkokok. Karena dengan kokoknya ayam menandakan pagi sudah datang dan waktu raksasa sudah habis.

Saking kerasnya, suara itu membangunkan perempuan-perempuan desa. Setelah mengetahui maksudnya, mereka pun ikut menumbuk pagi. Mendengar suara orang-orang menumbuk pagi, membuat ayam jantan terkejut. Ayam jantan di desa pun saling berkokok.

Betapa terkejutnya raksasa mendengar suara ayam berkokok dan bunyi alu yang berdentang. Raksasa bangkit dan berusaha memandang ke arah timur. Namun anehnya langit masih gelap dan sinar matahari pun tak terlihat.

Padahal tinggal sebatok lagi galian tanah yang harus raksasa pindahkan dan syarat dari Rara Anteng bisa terpenuhi. Seketika, badan raksasa menjadi lemas dan meleparkan batok kelapa penuh galian tanah. Hingga akhirnya badan raksasa pun jatuh ke tanah. Batok dan tanah galian tadi menutupi tubuh raksasa dan kini tempat tersebut dikenal dengan Gunung Batok.

Danau yang raksasa buat di sekitar Gunung Batok hampir selesai, namun belum sempat diisi air. Dan kini danau itu dikenal dengan nama Segara Wedi yang artinya laut pasir. Hal ini dikarenakan, danau tersebut dipenuhi dengan pasir.

Lantas, bagaimana dengan nasib Rara Anteng pada legenda gunung bromo? Akhirnya, Joko Tengger melamar Rara Anteng. Keduanya menikah dan menjadi sepasang suami istri yang dikaruniai banyak anak.

Nah, itu dia legenda yang berkaitan dengan Gunung Bromo. Mungkin bagi sebagian orang menganggap informasi seputar legenda tentang suatu tempat itu tidak penting. Padahal justru sangat penting karena menguak asal usul dari tempat tersebut. Apalagi jika tempat tersebut menjadi tempat wisata, seperti halnya Gunung Bromo.

Gunung Bromo bukan hanya menarik perhatian dari para wisatawan domestik, melainkan juga mancanegara. Tak ada salahnya bukan menambah pengetahuan terkait info seputar asal usul dari Gunung Bromo.

Demikianlah ulasan mengenai legenda Gunung Bromo, ikon wisata dari Probolinggo.



source https://www.terbaru.co.id/legenda-gunung-bromo-berasal-dari-gadis-cantik/

Kantor Pinjol Di PIK Di Grebek Kepolisian

Terbaru.co.id, Jakarta — Kombes E Zulpan, Kabid Humas Polda Metro Jaya, menyatakan kantor pinjol di PIK, Jakarta Utara telah berhasil di grebek oleh pihak Kepolisian, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, hari Rabu (26/01/2022).

Menurut Zulpan Pinjol (Pinjaman Online) di PIK (Pantai Indah Kapuk) Jakarta Utara, diungkap telag mengelola 14 aplikasi Pinjol Ilegal.

“Mereka ini semua mengoperasional 14 aplikasi pinjol online ilegal,” ujar Zulpan kepada wartawan, Rabu (26/1).

Dana Aman, Uang Rodi, Pinjaman Terjamin, Go Kredit, Dana Induk, Dana Online adalah salah satu aplikasi dari 14 aplikasi pinjol ilegal tersebut.

Zulpan menyatakan kalau kantor pinjol tersebut mengelola atau mengoperasikan 14 aplikasi ilegal tersebut sejak Desember 2021.

Menurut Zulpan ke 14 aplikasi pinjol tersebut masing-masing menawarkan pinjaman ddengan besaran harga yang bervariasi.

“Pinjaman batasan terendah Rp. 1,2 juta tertinggi Rp. 10 juta dan cukup banyak orang yang melakukan peminjaman ini,” imbuh Zulpan.

Zulpan pun menambahkan kalau kantor pinjaman online ilegal itu beroperasi secara penuh atau tidak ada hari libur. Senin s/d Minggu mulai beroperasi dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB.

Total ada 99 orang yang diamankan dalam penggerebekan oleh pihak kepolisian ke lokasi kantor pinjol di PIK tersebut. Diantaranya yaitu 1 orang manager dan 98 karyawannya.

Semua karyawan mempunyai tugas dan peran masing-masing, 48 orang bertugas menjadi reminder atau mengingatkan konsumen (peminjam) akan jatuh tempo pinjaman. Sedangkan 50 orang lainnya bertugas untuk mengingatkan peminjam yang sudah terlambat melakukan pembayaran pinjamannya.

Menurut Zulpan telah dinyatakan ilegal karena tidak memiliki izin dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Selanjutnya, kantor pinjaman online tersebut diduga melanggar UU ITE dan UU Perlindungan Konsumen.

“Pertama UU ITE, UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999, khususnya Pasal 62, di mana para pelaku pinjol bisa dipidana dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” kata Zulpan.



source https://www.terbaru.co.id/kantor-pinjol-di-pik-di-grebek-kepolisian/

4 Cerita Rakyat Jakarta Yang Populer Dan Tokoh Legendanya

Terbaru.co.id — Peduduk asli Jakarta dan pendatang yang telah lama mendiami wilayah Jakarta dan sekitarnya, pasti tidak asing lagi dengan cerita rakyat Jakarta. Sebut saja kisah tentang Si Pitung yang tersohor di seantero wilayah Jabodetabek.

Selain cerita Si Pitung, ada tokoh-tokoh lain yang tak kalah populernya, misalnya si Jampang, Sang Macan Kemayoran. Penokohan dari kaum perempuan dalam cerita Betawi juga tak kalah banyaknya contohnya Nyai Dasima dan Siti Ariah. Para perempuan Betawi ini digambarkan dengan kepribadian yang sabar, tegar, kuat, dan tabah di dalam lingkungan yang patriarkis.

Cerita kaum Betawi, penduduk asli Jakarta, merupakan warisan tradisi yang diturunkan baik secara lisan maupun tulisan. Kemungkinan munculnya cerita rakyat Jakarta adalah pada masa kejayaan tuan tanah. Pada masa itu, hampir seluruh wilayah Jabodetabek dikuasai oleh tuan tanah yang menerapkan peraturan secara semena-mena.

Dari keadaan yang penuh tekanan inilah muncul bentuk-bentuk perlawanan terhadap kediktatoran penguasa. Tapi bukan hanya itu saja, untuk membakar semangat juang rakyat, para seniman pun turut berkontribusi dengan menciptakan kisah-kisah pemberani, lakon, tarian, nyanyian, dan teater.

Jika dikumpulkan dalam satu kompilasi, kisah-kisah rakyat Jakarta jumlahnya sangat banyak. Namun di antara banyaknya tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Jakarta, ada beberapa tokoh yang lebih dikenal oleh orang-orang yaitu kisah Si Pitung, Si Jampang, Nyai Dasima, dan Murtado.

Beberapa tokoh mungkin telah kita ketahui kisahnya, namun beberapa yang lain tidak kita ketahui sama sekali. Mari berkenalan dengan empat tokoh populer dalam kisah rakyat Betawi.

Cerita Rakyat Jakarta, Si Pitung, Sang Legenda dari Tanah Betawi

Cerita Rakyat Jakarta - Legenda Sipitung

Ada tiga versi tentang legenda si Pitung ini, yaitu versi Indonesia, Belanda, dan Cina. Dalam versi Indonesia tentu saja si Pitung dianggap pejuang legendaris. Dalam versi Belanda, si Pitung dianggap sebagai seorang penjahat yang menentang mereka. Kisah tentang si Pitung tidak saja disampaikan dalam bentuk cerita lisan, namun juga disampaikan dalam bentuk rancak (balada), syair, ataupun cerita dalam lenong.

Dalam film Si Pitung yang dirilis tahun 1970, diceritakan bahwa si Pitung lahir di kampung Pengumben, Rawa Belong. Di sekitar lokasi stasiun kereta api Palmerah sekarang. Ayah si Pitung bernama Bang Piung, sedang ibunya bernama Mpok Pinah. Si Pitung bersekolah di sebuah pesantren pimpinan Haji Naipin. Dalam film tersebut, si Pitung digambarkan sebagai pendekar silat dari tanah betawi.

Pada cerita rakyat jakarta, nama si Pitung menjadi dikenal orang karena tindakannya dalam membela kaum yang lemah dari penindasan centeng-centeng para tuan tanah dan penjajah Belanda. Ia menjadi buronan dan dikejar-kejar oleh Belanda yang menguasai Batavia.

Ada satu versi cerita yang menyebutkan bahwa si Pitung menjadi perampok orang-orang kaya dan membagi-bagikan hasil rampokannya kepada rakyat miskin. Versi yang satu ini mirip dengan kisah Si Jampang yang terkenal sebagai Robin Hood dari Tanah Betawi. Meskipun pada akhirnya si Pitung wafat akibat diberondong peluru Belanda. Namanya tetap terpatri dalam sanubari rakyat sebagai pahlawan pembela kaum yang lemah.

Cerita Rakyat Jakarta, Legenda Nyai Dasima

Cerita Rakyat Jakarta - Legenda Nyai Dasima

Nama Nyai Dasima sangat populer dalam kisah rakyat Betawi. Tertuang dalam syair dan pantun, teater, prosa, lenong, film, dan sinetron. Nama Nyai Dasima melegenda setelah G. Francis menulis sebuah novel roman sejarah berjudul Tjerita Njai Dasima pada tahun 1896.

Kemudian pada tahun 1965, S.M. Ardan menuliskan kembali cerita Nyai Dasima ke dalam bentuk naskah drama. Kisah ini pernah beberapa kali diangkat ke layar film bisu. Kali pertama di tahun 1929 dengan judul Njai Dasima I. Setahun kemudian dirilislah Njai Dasima II. Ketika era film bisu berakhir, dirilislah film Nyai Dasima (1932), Dasima (1940), Dasima dan Samiun (1970), dan sinetron Nyai Dasima (1996).

Nyai Dasima dilahirkan di Desa Kuripan, Ciseeng. Karena ingin mengadu nasib dan memperbaiki perekonomian hidupnya, ia hijrah ke kota Batavia. Di Batavia, Nyai Dasima bekerja sebagai bedinde atau pembantu rumah tangga di rumah seorang pejabat kepercayaan Raffles yang bernama Edward William.

Berkat kecantikannya, sang tuan menjadikan Nyai Dasima sebagai gundik atau nyai tanpa dinikahi. Dari hubungannya dengan Tuan Edward ini, Nyai Dasima memiliki seorang anak bernama Nancy.

Dikisahkan bahwa Nyai Dasima merasa berdosa karena kehidupannya sebagai nyai sang tuan. Akhirnya ia meninggalkan kehidupannya dan menikah dengan seorang tukang sado bernama Samiun, sebagai istri kedua. Namun, keputusannya inilah yang akan membawanya pada akhir kisah hidupnya yang tragis.

Menurut cerita, Nyai Dasima wafat akibat dibunuh oleh seorang jawara kampung. Versi G. Francis menyebutkan bahwa sang jawara diperintahkan untuk membunuh Nyai Dasima atas suruhan Samiun, suami Nyai Dasima, yang mengincar hartanya. Sedangkan versi S.M. Ardan menuturkan bahwa yang memerintah si jawara itu adalah istri pertama Samiun yang cemburu pada Nyai Dasima.

Cerita Rakyat Jakarta, Si Jampang, Robin Hood Betawi

Cerita Rakyat Jakarta - Legenda Si Jampang

Jika Inggris memiliki kisah tentang Robin Hood, maka tanah Betawi pun memilikinya. Kisah tentang seorang si jago silat bernama Jampang, yang sering merampok orang-orang kaya dan membagikan rampokannya kepada rakyat miskin. Konon, Jampang menguasai beberapa wilayah yang berada di Parung hingga Bogor dan Sukabumi. Daerah-daerah kekuasaan si Jampang dulunya disebut daerah Jampang.

Seperti layaknya si Pitung yang melawan kekuasaan semena-mena para centeng dan tuan tanah, si Jampang pun menjadi momok yang sangat menakutkan bagi para tuan tanah dan orang-orang kaya. Harta benda mereka kerap kali dirampok oleh Jampang untuk dibagi-bagikan kepada rakyat miskin.

Berbeda dari kisah Si Pitung yang gugur akibat diberondong penguasa Belanda di Batavia yang menggunakan akal bulus, Si Jampang menemui ajalnya akibat hukuman mati yang diputuskan oleh pihak pengadilan akibat mencuri sepasang kerbau.

Syahdan, si Jamapang tergila-gila oleh seorang janda bernama Mayangsari. Jampang sempat menaruh guna-guna di rumah Mayangsari agar ia mau menerima pinangan Jampang. Namun hal itu diketahui oleh Abdih, anak Mayangsari. Setelah guna-guna dibatalkan oleh dukun yang memberi guna-guna itu pada Jampang, Abdih menemui Jampang untuk membuat perhitungan.

Dengan akal bulusnya, Abdih meminta mas kawin sepasang kerbau. Karena tidak memiliki harta sepeser pun untuk membeli kerbau, Jampang berniat mencuri sepasang kerbau milik seorang kaya raya. Apa daya nasib berkata lain, pencurian ini membawa Jampang pada hukuman mati.

Cerita Rakyat Jakarta, Mirah, Singa Betina dari Marunda

Cerita Rakyat Jakarta - Legenda Mirah

Kaum perempuan selalu diasosiasikan sebagai makhluk yang lemah lembut. Uniknya, dalam tradisi masyarakat Betawi, sebenarnya pencak silat merupakan suatu keterampilan yang harus dikuasai kaum perempuan Betawi dahulu. Banyak sekali tokoh pendekar perempuan dalam cerita rakyat Jakarta, salah satunya Mirah yang mendapat sebutan Singa Betina dari Marunda. Mirah bukanlah pejuang emansipasi wanita namun merupakan seorang pejuang dalam arti yang sesungguhnya.

Kampung Marunda dahulu merupakan kampung yang menjadi markas tentara Mataram Islam yang berusaha merebut Batavia dari Kompeni Belanda. Banyak sekali pejuang-pejuang berdarah betawi yang turut serta dalam perjuangan ini.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, tentara Belanda mendompleng tentara NICA (sekutu) yang datang ke daerah Hindia-Belanda, termasuk Indonesia, untuk mengontrol daerah tersebut selepas menyerahnya tentara Jepang. Pada waktu itu, timbul perlawanan terhadap tentara NICA. Rakyat kampung Marunda pun ikut serta dalam mempertahankan kemerdekaan. Termasuk Mirah yang berkat keberaniannya mendapat sebutan Singa Betina dari Marunda.

Tidak banyak kisah yang diketahui tentang Mirah. Namun satu hal yang dapat dipastikan bahwa tokoh Mirah bukanlah hanya dongeng semata, ia benar-benar pernah hidup. Dituturkan bahwa Mirah adalah seorang gadis Betawi yang cantik dan menguasai ilmu beladiri dengan baik.

Ayahnya, Bang Bodong, merupakan jawara yang terkenal di kampungnya. Mirah selalu mendampingi ayahnya dalam menumpas pengacau dan perampok di kampungnya. Mirah yang telah cukup umur untuk menikah, menyatakan akan menikah dengan laki-laki yang dapat mengalahkannya dalam pertarungan satu lawan satu.

Suatu hari, muncullah seorang pemuda yang membuat onar di kampung Mirah. Bang Bodong berhasil dikalahkan oleh pemuda itu, begitu juga Mirah. Namun Bang Bodong tidak marah melainkan senang karena akhirnya telah datang seorang laki-laki yang dapat mengalahkan Mirah.

Si pemuda, yang bernama Asni asal kampung Kemayoran rupanya datang ke kampung Marunda untuk mencari perampok. Ia bersedia menjadi menantu Bang Bodong dengan menikahi Mirah. Ternyata, perampok yang dicari-cari Asni adalah Tirta. Tirta adalah jawara di kampung Karawang. Akhir cerita, penangkapan Tirta dilakukan pada saat pesta pernikahan Mirah dan Asni.

Apakah fungsi sebenarnya dari cerita rakyat? Cerita rakyat kurang lebih memiliki fungsi sebagai suatu media untuk menyampaikan pesan yang berisi kebaikan, nilai-nilai moral, protes, dan hiburan. Semoga kita dapat mengambil pesan kebaikan dan nilai moral yang terkandung dalam cerita rakyat jakarta yang pernah kita baca.



source https://www.terbaru.co.id/4-cerita-rakyat-jakarta-dan-legendanya/

Selasa, 25 Januari 2022

Asas Legalitas Penting Dalam Hukum Pidana

Terbaru.co.id — Asas legalitas adalah hal yang sangat penting dalam dunia hukum, terutama sekali dalam hal tindak pidana. Legalitas kemudian menjadi asas yang penting karena jika hukum diterapkan tanpa melihat asas legalitas, maka yang terjadi adalah benturan-benturan antara hukum dan hak asasi manusia.

Memang legalitas adalah bahasa hukum, dan kadang telinga kita merasa tidak akrab karena perlu ‘kekuatan’ khusus dalam memahami dan memaknai bahasa hukum. Maka disini perlu diadakan penyederhanaan definisi apa sebenarnya yang disebut dengan legalitas itu. Legalitas adalah sebuah aturan hukum yang tertulis dalam bentuk undang-undang yang akan mengatur pelaku pelanggaran hukum setelah adanya legalitas tersebut. Jadi, legalitas sejatinya hanya bisa memperkarakan tindak pidana setelah legalitas itu sendiri ada, bukan tindak pidana sebelum legalitas hukum itu ada.

Jika kemudian pelaku tindak pidana dihukum sementara saat ia melakukannya belum ada aturan hukum atau legalitas yang berlaku, maka hal ini kemudian dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Maka, sekali lagi, legalitas dalam dunia hukum itu sangatlah penting bahkan menjadi landasan atas dasar acuan di mana pelaku tidak pidana bisa dijerat sesuai dengan kesalahannya. Seperti itulah gambaran sederhana dalam memahami legalitas dalam dunia hukum.

Lantas apakah legalitas hukum seperti ini sudah ada dan menjadi pembahasan tersendiri pada masyarata jaman dulu? Nampak tak ada salahnya jika kita merujuk kembali sejarah perkembangan legalitas dalam hiruk pikuk dunia hukum pada abad-abad yang telah lama berselang dari hari ini.

Asas Legalitas – Legalitas pada Masa Lampau

Membicarakan hukum atau bidang apa sajalah, rasanya kita tidak akan pernah lepas dari jaman Romawi kuno yang sangat identik dengan bahasa latinnya. Terkait dengan asas legalitas dalam dunia hukum, ternyata bangsa Romawi kuno tidaklah mengenal apa yang dinamakan dengan legalitas. Ya, sekali lagi, mereka tidak mengenal aturan-aturan tertulis semacam yang ada saat ini. Pada masa itu, setiap kejahatan yang ada tidak pernah diatur secara tertulis dalam bentuk undang-undang sehingga istilah criminal extra ordinaria, atau ‘kejahatan tak tertulis dalam undang-undang’ sangatlah biasa berlaku pada masa itu.

Perilaku jahat dan durjana masuk dalam criminal extra ordinaria ini lalu namanya kemudian disebut-sebut sebagai crimina stellionatus atau tindak kejahatan atau kriminal. Jika kemudian merujuk lebih belakang lagi, sejak kapan kemudian criminal extra ordinaria ini berlaku, nampaknya sangat sedikit sekali literatur yang membahas hal itu. Hanya saja, tindakan ini sudah biasa dilakukan karena memang adalah bentuk kebijakan raja yang diadopsi dari raja-raja berkuasa sebelumnya. Semacam kesepakan atau kebiasaan bersama yang berlaku dan tak perlu untuk dituliskan lewat diskusi bersama yang melelahkan dan membuang-buang waktu.

Nah, oleh karena kebijakan penindakan hukum dilakukan atas hak kuasa seorang raja semata, maka sangat lebar sekali peluang penyelewengannya untuk diterapkan dengan cara yang sewenang-wenang sesuai dengan kehendak sang raja. Meski kita tidak pernah melihatnya langsung, tetapi sejarah dalam buku atau film telah menggambarkan bahwa raja punya kuasa penuh untuk mengadili seseorang yang baginya melanggar hukum tatanan yang ada, meski pun tanpa persidangan dan kejelasan kesalahan apa saja yang bisa menjadikan seseorang dijebloskan ke dalam penjara atau diseret ke tiang gantungan.

Maka sekali lagi legalitas hukum itu sangat penting, sampai kapan pun. Mengingat ternyata pelanggaran hukum juga kerap kali dilakukan pada masyarakat yang cukup modern, di mana kita mendengar pembantai-pembantaian massal yang dilakukan pada masa pemerintahan diktator semisal era berkibarnya bendera Nazi di Jerman. Juga kasus-kasus lainnya yang pengeksesiannya sungguh tidak berlandaskan pada asas legalitas hukum yang ada, dan ini adalah pelanggaran hak asasi manusia.

Nah, jika ditarik pada masa saat ini, jelas apa yang dilakukan oleh para raja tersebut melanggar dan bisa dikenai sanksi hukum tersendiri karena telah semena-mena memutuskan hukum tanpa adanya legalitas. Intinya, bila suatu tindakan yang dinilai memiliki syarat pelanggaran hukum dan memenuhi unsur delik yang memang dilarang dalam kitab hukum, tapi dilakukan sebelum berlakunya undang-undang tersebut, maka hal itu bukan hanya tidak bisa dituntut di persidangan tetapi sang penghukum saat itu bisa dimintai pertanggungjawaban atas keputusannya.

Jadi, dalam dunia hukum harus ada hal yang menentukan bahwa sebuah tindakan tersebut dapat dipidana sesuai dengan aturan undang-undang yang berlaku. Dan yang bisa dipidanakan adalah mereka yang melanggar hukum saat aturan itu sudah dibuat. Nah, norma inilah yang kemudian disebut sebagai asas legalitas dalam dunia hukum atau dalam bahasa kerennya disebut dengan Principle of Legality. Semoga bisa memberi sedikit memberi gambaran. Lantas bagaimana dengan legalitas hukum di Indonesia?

Asas Legalitas Hukum di Indonesia

Indonesia adalah negara yang juga tak lepas dari problematika dalam hal penerapan legalitas hukum. Kerap kali terjadi ketentuan peraturan perundang-undangan di negara ini, yang merumuskan tindak pidana diberlakukan secara retroaktif atau surut. Padahal pemberlakukan semacam itu adalah tindakan kesewenang-wenangan dan sekali lagi berarti pelanggaran hak asasi pada diri manusia yang cukup fatal.

Penyimpangan-penyimpangan asas legalitas tetap saja terjadi dan selalu bermuara pada kepentingan-kepentingan serta tidak lengkapnya peraturan undang-undang yang mengatur hingga menjadikan analogi sebagai acuan. Ini bahaya sekali bagi masa depan hukum di Indonesia tentu. Adalah kasus bom Bali, kasus Pelanggaran HAM di Timor-Timur, dan Tanjung Priok adalah deretan daftar kasus yang sangat diduga telah dilakukan asas legalitas yang sudah disimpangkan dengan semena-mena atau berlakunya asas retroaktif tadi.

Namun, perlu diketahui, bahwa dalam hukum pidana Indonesia, asas legalitas ini diatur dengan jelas dan seksama di dalam KUHP. Dan hingga hari ini asas legalitas ini masih tetap berlaku hingga hari ini maupun dalam Rancangan KUHP (RKUHP) selanjutnya. Lihat saja bagaimana kemudian Pasal 1 ayat (1) KUHP yang telah menyatakan bahwa tidak ada suatu perbuatan pun dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang memang telah ada, sebelum perbuatan itu dilakukan.

Bunyi pasal ini, sejatinya sudah sangat menjelaskan secara rinci, dan isinya menyimpan dua hal utama, yakni, pertama, suatu tindak pidana harus dirumuskan terlebih dahulu dalam peraturan perundang-undangan dan kedua, peraturan perundang-undangan harus ada sebelum terjadinya tindak pidana itu sendiri atau tidak boleh berlaku surut. Itu sudah jelas dalam kitab undang-undang hukum pidana. Sekali lagi, legalitas menghendaki perbuatan dapat dinyatakan tindak pidana jika lebih dahulu ada undang-undang yang menyatakan perbuatan tersebut memang sebagai tindak pidana.

Maka dalam beberapa kasus terjadinya penyurutan pasal legalitas, maka pasal 1 ayat (1) KUHP inilah yang menjadi landasan dan arah patokan penegakan hukum pidana di Indonesia.  Selain itu, ada pasal lain yang memperkuat masalah legalitas ini. Itu bisa dilihat dalam Pasal 6 ayat (1) UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Di sana disebutkan bahwa tidak seorang pun dapat dihadapkan di depan pengadilan selain daripada yang ditentukan oleh undang-undang yang berlaku. Maka jelas sudah bahwa bunyi pasal ini sejatinya memperkokoh keberadaan asas legalitas.

Lantas kenapa masih saja kerap terjadi pelanggaran yang terkait dengan masalah legalitas hukum pidana di Indonesia ini? Jawabannya adalah, karena hukum di Indonesia sudah tidak relevan lagi dan perlu revisi yang sangat serius mengingat konsep hukum pidana masih mengacu pada warisan Belanda.

Nah, semoga artikel tentang masalah legalitas ini bisa menjawab kehausan wawasan Anda.



source https://www.terbaru.co.id/asas-legalitas-penting-dalam-hukum-pidana/

Tak Disangka, Ini Pengakuan Penghuni Kerangkeng Di Rumah Bupati Langkat

Terbaru.co.id — Tak disangka, ini pengakuan penghuni kerangkeng di rumah Bupati Langkat, Terbit Rencana Perangin Angin yang akhir-akhir ini membuat heboh dunia maya.

Salah seorang warga yang berada di kerangkeng kediaman bupati langkat, Fredi Jonathan menjelaskan saat dia berada dalam kerangkeng mirip penjara manusia tersebut.

Fredi mengakui dirinya makin gemuk selama berada didalam kerangkeng tersebut.

“Kalau menurut aku nyaman aku di situ, Bang, karena makin sehat aku, Bang, kuakui. Sehat, gemuk. Itu yang kualami,” kata Fredi setelah dibawa dari kerangkeng ke Kantor Camat Kuala, Langkat, Selasa (25/1/2022).

Fredi mengakui kalau saat di kerangkeng hidupnya lebih teratur. Dia pun memiliki tugas hanya bersih-bersih ketika berada di kerangkeng.

“Karena dulu pertama masuk aku kan kurus, nggak teratur lah aku bilang bang. Semenjak aku di dalam itu kan, kita di situ di didik teratur, olahraga tiap pagi, aktivitas pun kita setiap pagi bersih-bersih kan di pinggir kolam itu saya nyapu-nyapu,” ujarnya.

Hal yang serupa pun diakui oleh warga lainnya, Jefri Sihombing, yang memang berada di dalam kerangkeng rumah Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin.

Menurut Jefri, dirinya yang merupakan pecandu narkoba, kondisinya makin sehat selama berada di dalam kerangkeng.

“Iya (diserahkan ke kerangkeng karena pecandu). Satu kerangkeng 14 orang, pecandu semua. Empat bulan (di dalam kerangkeng), sehat, makin gemuk,” ujar Jefri.

Jefri menurutkan kalau selama di dalam kerangkeng, dirinya menjadi lebih sehat karena rajin berolahraga. Dia pun mengakui kalau dirinya tidak pernah mendapatkan tindakan penganiayaan selama di kerangkeng rumah Bupati Langkat.

“Saya lihat enggak pernah (ada yang disiksa),” ujar Jefri.

Sebelumnya, keberadaan kerangkeng seperti penjara ini diungkap oleh pihak Migrant CARE, yang lokasinya berada di belakang rumah Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin. Bahkan heboh di dunia maya, dugaan tempat perbudakan manusia.

Akhirnya pihak Kepolisian kemudian mengungkap bahwa kerangkeng tersebut merupakan tempat untuk rehabilitasi pecandu narkoba. Menurut Polisi, saat ditemukan, ada 4 orang dalam kerangkeng tersebut.

“Kita pada waktu kemarin teman- teman dari KPK yang kita back-up, melakukan OTT. Kita melakukan penggeledahan pada saat itu datang ke rumah pribadi Bupati Langkat. Dan kita temukan betul ada tempat menyerupai kerangkeng yang berisi tiga-empat orang waktu itu,” kata Kapolda Sumut Irjen Panca Putra kepada wartawan, Senin (24/1).

Panca pun mengakui sudah menyelidiki temuan tempat seperti kerangket itu kepada pihak terkait yaitu Terbit Rencana. Menurut pengakuannya, kerangkeng itu sudah dijalankan selama 10 tahun.

“Tapi sebenarnya dari pendataan kita, pendalaman kita bukan tiga empat orang itu, kita dalami itu masalah apa, kenapa ada kerangkeng dan ternyata hasil pendalaman kita memang itu tempat rehabilitasi yang dibuat oleh yang bersangkutan secara pribadi dan sudah berlangsung selama 10 tahun untuk merehabilitasi korban-korban narkoba, pengguna narkoba,” tutur Panca.



source https://www.terbaru.co.id/tak-disangka-ini-pengakuan-penghuni-kerangkeng-di-rumah-bupati-langkat/

Polisi Dan Komnas Ham Akan Periksa Bupati Langkat Setelah Di Fasilitasi KPK

Terbaru.co.id, Jakarta — Polisi dan Komnas HAM akan periksa Bupati Langkat setelah di fasilitasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK siap membantu Kepolisian dan Komnas HAM jika ingin memeriksa Bupati Langkat, Terbit Rancana Perangin Angin.

Terbit Rencana Perangin Angin merupakan tahan dari KPK terkait kasus suap pengadaan barang dan jasa di Pemkab Langkat, Sumatera Utara.

“KPK siap fasilitasi kepolisian ataupun pihak Komnas HAM apabila melakukan permintaan keterangan, klarifikasi, atau pemeriksaan terhadap tersangka TRP (Terbit) dimaksud,” ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri Selasa, (25/1/2022).

Menurut Ali, tim penyidik memang menemukan ruangan yang sementara ini diduga sebagai tempat kerangkeng manusia ketika hendak menangkap Terbi di rumah pribadinya.

Ali mengungkapkan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan penegak hukum dan pihak yang terkait mengenai dugaan tempat kerangkeng tersebut.

“Karena itu bukan bagian dari perkara yang sedang kami lakukan penyelidikan, maka tentu kelanjutan dugaan adanya peristiwa itu dikoordinasikan dan menjadi ranah kewenangan kepolisian,” ujar Ali.

Bupati nonaktif Langkat Terbit Rencana Perangin Angin selama ini diduga telah memperbudak manusia dan dilakukan sudah beroperasi sejak 10 tahun yang lalu.

“Informasi yang didapat sudah 10 tahun,” ujar Ketua Pusat Studi Migrasi Migrant Care Anis Hidayah dalam keterangannya, Selasa (25/1/2022).

Setelah terjerat di KPK, Bupati Langkat seperti jatuh tertimpa tangga, dugaan perbudakan muncul setelah dirinya ditetapkan sebagai tersangka. Terbit Rencana Perangin Angin diduga melakukan perbudakan terhadap para pekerja kebun kelapa sawit.

Di belakang kediamannya ditemukan bangunan yang mirip seperti penjara, namun menurut Kapolda, bangunan kerangkeng itu, diperuntukan bagi rehabilitasi narkoba.

Anis mengatakan, berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, bangunan seperti penjara yang dibangun oleh Terbit Rencana Perangin Angin, dikhususkan bagi para pencandu narkoba. Walaupun demikian, tak menyurutkan pihak dari Komnas HAM untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

Anis mengungkapkan kalau alasan rehabilitasi bukan menjadi alasan untuk mempekerjakan orang di kebun kelapa sawit secara sewenang-wenang apalagi tanpa gaji.

“Ada informasi dari polisi begitu (tempat rehabilitasi). Tapi mestinya tidak jadi alasan untuk mempekerjakan orang tanpa gaji dan dianiaya atas nama rehabilitasi,” kata Anis.



source https://www.terbaru.co.id/polisi-dan-komnas-ham-akan-periksa-bupati-langkat/

Cerita Rakyat Kabupaten Kebumen, Legenda Gunung Wurung

Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar kata legenda? Danau Toba-kah? Atau Gunung Tangkuban Parahu? Lalu apa pula yang terlintas dala...